Tampilkan postingan dengan label Feature News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Feature News. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Oktober 2010

Car Free Day : Kebiasaan Baik Untuk Bandung

Biasanya Minggu pagi adalah hari untuk bermalas-malasan, namun Bandung memiliki hobi yang berbeda dan unik, setiap Minggu pagi semua orang bersiap-siap untuk berjalan-jalan pagi bersama keluarga, dan menikmati Car Free Day (CFD) yang ada di jalan Ir.H.Juanda (Dago). Setiap pukul 06.00 hingga pukul 10.00 WIB, Simpang Dago sampai Jl. Cikapayang menjadi pusat keramaian karena orang-orang dari setiap penjuru Bandung datang untuk menikmati jalan Dago yang bebas dari mobil.

Orang-orang biasanya mulai berdatangan pukul 07.00 WIB, dan menikmati CFD ini hingga pukul 10.00 WIB. Tidak hanya anak-anak muda yang hanya ingin berolah raga, para pedagang kaki lima, komunitas sepeda, bahkan promosi-promosi produk ikut meramaikan acara yang diselanggarakan setiap minggu ini.

Acara di hari minggu ini sudah menjadi kebiasaan bagi warga bandung. Biasanya mereka datang bersama keluarga, bersama pacar, dan beberapa sendirian, namun di sana-sini bisa dilihat orang-orang yang berjalan bergandengan tangan dengan anak-anak mereka. Banyak yang bermain sepeda dan sepatu roda, banyak juga orang tua yang bermain olahraga kecil seperti bulutangkis dengan anak mereka.

Ada juga senam yang diadakan di jalanan ini, biasanya para penikmat CFD ikut berpartisipasi dengan mengikuti senam-senam tersebut. walaupun mayoritas adalah orang tua, namun ada juga remaja dan anak-anak yang mengikuti senam kesehatan ini. dilihat dari jumlah orang yang mengikuti senam kesehatan ini, tampaknya warga bandung cukup antusias dengan senam ini.

Kebiasaan yang baik untuk warga bandung, selain mengingatkan warganya untuk berolahraga, CFD juga bisa menjadi ajang untuk mempererat hubungan antar keluarga, hal tersebut dikatakan oleh narasumber, Anwar (50), “Kalau bareng-bareng mah gak terasa”. Ia biasa datang ke Dago hampir setiap minggu bersama sanak keluarganya, kadang untuk berjalan kaki, kadang untuk ikut senam, atau kadang hanya duduk-duduk menikmati ramainya jalan Dago di hari Minggu. Ia juga mengatakan, “seharusnya car free day itu sampe Dago atas, jadi lebih enak”. Rasa kebersamaan di ungkapkan juga olehnya ketika ia berkata, sering mengajak tetangga untuk ikut serta berjalan bersama, jelas Ibu asal Cigadung ini.

Para pedagang kaki lima juga merasa diuntungkan dengan adanya kebiasaan baru kota Bandung ini, seperti kata Imam (32) pedagang kaki lima yang berpindah-pindah tempat dagangan, ia menuturkan bahwa biasanya pada Minggu pagi ia berjualan di daerah Gasibu, namun pada beberapa minggu terakhir ia mencoba berjualan di kawasan Dago, “kalo keuntungannya bagus ya jualan disini terus”, ucap pedagang donat keliling tersebut.

Kegembiraan CFD juga dirasakan oleh pasangan Caca (16) dan Ayib (19), kedua orang ini merasa senang dengan acara CFD ini, “biasanya sih buat olahraga, jajan atau ngeceng” tutur Caca. Ia sempat mengeluh tentang kecilnya jalanan yang digunakan untuk acara ini, ia mengatakan bahwa seharusnya jalanan yang digunakan mulai dari Simpang sampai Hotel Holiday inn Dago. Ia juga berkata waktu untuk CFD seharusnya ditambah sampai pukul 12.00 WIB, karena ia berpendapat tujuan dari CFD tidak didapat mengingat acara ini hanya diadakan sebentar. “Car Free Day ‘kan gunanya untuk mengurangi polusi, sayang dong kalo cuma sebentar, habis ini juga banyak polusi lagi” jelasnya. Tapi mereka tidak merasa terganggu dengan adanya acara ini, mereka senang dengan adanya acara ini, hanya saja mereka merasa belum cukup dengan acara yang diadakan tiap hari minggu ini.

Kebiasaan ini berlanjut tidak hanya untuk orang-orang yang ingin berolahraga, namun berlaku juga untuk toko-toko dan Factory Outlet (FO) yang dilewati oleh area CFD, biasanya mereka menyediakan musik-musik sebagai pengiring jalanan. Beberapa diantaranya juga berpromosi dan menyelenggarakan event-event kecil sebagai pengisi dan bentuk partisipasi mereka dalam acara CFD ini.

Walaupun dikatakan bahwa car free day seharusnya bebas dari para pedagang, masih terlihat para pedagang yang duduk langgeng di pinggir jalan, menjual minuman, makanan bahkan rokok. Masih terlihat juga beberapa pengendara motor yang “lepas” dari pandangan polisi dan melewati jalan yang digunakan untuk CFD. Pada awal dimulainya car free day juga terlihat masih adanya kendaraan bermotor yang melewati jalur sepeda, sehingga mengganggu pejalan kaki lainnya.

Beberapa keluhan seputar pedagang keliling disampaikan oleh Icha (17) dan Anggi (22), SPG suatu produk yang sedang mempromosikan produknya di acara CFD. Menurut Icha, acara CFD ini kurang tertib dengan adanya pedagang keliling di pinggir jalan. Sedangkan Anggi berpendapat bahwa bila acara CFD selalu seperti ini, para pedagang akan terus berdatangan dan menjadi ramai seperti Gasibu, yang sekarang penuh dengan pedagang kaki lima dimana-mana. Ia juga berpendapat, acara CFD juga sebaiknya diadakan di Cihampelas, yang menurutnya merupakan pusat kemacetan kota bandung. SPG yang biasa berpromosi di Gasibu ini sempat bercerita tentang biaya untuk mendirikan stand di area CFD, ia mengatakan hanya untuk kali ini ia berpromosi disini, karena biaya yang digunakan untuk sebuah stand mencapat satu juta rupiah sekali tampil, untuk minggu depan, ia tidak tahu-menahu akan meneruskan disini atau di tempat lainnya.

Kebiasaan yang sudah berlangsung enam bulan di kota bandung ini tampaknya sudah diterima dengan baik oleh warga bandung. Antusiasme masyarakat cukup tinggi dilihat dari banyaknya orang-orang yang meramaikan acara ini, walaupun beberapa narasumber merasa kurang dari segi ketertiban, sebagian besar merasa bahwa acara CFD ini adalah acara yang cukup baik, bahkan beberapa meminta untuk diperpanjang waktu dan daerahnya. Karena mereka berpendapat, CFD mampu memberikan tempat untuk berolahraga, jalan-jalan bersama, dan menikmati suasana pagi di kota kembang.

Senin, 11 Oktober 2010

"Weekend di Bandung? Macet Ah!"

Minggu, 10 Oktober 2010 yang lalu, saya berjalan kaki menyusuri ruas kota Bandung dimulai dari RS. Boromeus sampai dengan Jl. Taman Pramuka, saat itu waktu menunjukan sekitar pukul 12.00 siang. Lalu apa yang membuat saya berjalan kaki seperti itu?
"Toh, ada Angkutan Kota (Angkot)? buat apa susah-susah jalan kaki dari boromeus kesini?" kalimat itulah yang diucapkan teman saya sesampainya di jalan Pramuka.
Saya bercerita kepadanya, bahwa saya pun telah mencoba untuk naik angkot pada saat itu, namun 30 menit setelah saya naik dan duduk, angkot tidak berjalan sama sekali begitupun dengan kendaraan pribadi lainnya, termasuk motor yang juga kehabisan lahan untuk berjalan, Bandung macet total pada saat itu.
Memang biasanya Bandung mengalami kemacetan pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu, namun biasanya kemacetan tidak terjadi separah ini. Kemacetan biasanya terjadi di ruas jln. Ir. H. Juanda (Dago) sampai ke daerah Riau dan sekitarnya, atau di daerah seperti Cihampelas dan Sukajadi, dan mencapai puncaknya pada Sabtu malam hingga Minggu siang.
Setelah 30 menit berlalu di dalam angkot yang tidak kunjung bergerak sama sekali, saya memutuskan untuk berjalan kaki menuju Taman Pramuka sampai menemukan ruas jalan yang cukup Lenggang.
Bawah jembatan Pasupati terlihat semrawut nya kendaraan yang melintas, yang mengakibatkan kendaraan tersebut saling mengunci satu sama lain. Saya bersama banyak orang lainnya yang memutuskan untuk berjalan kaki, menyebrangi jalan dengan mudahnya, karena kendaraan yang berada di sana berhenti total.
Saya terus berjalan bukan karena tidak ada Angkot, tapi semua Angkot yang ada tidak berjalan dan ikut terjebak di tengah kemacetan. Sesampainya saya di sekitar daerah Trunojoyo, kemacetan masih menghiasi jalanan, namun di dekat Taman Pramuka, jalanan terlihat cukup lenggang. Untunglah pada saat saya pulang, kemacetan terjadi tidak separah sebelumnya.
Bandung adalah kota kecil, namun menjadi pilihan untuk orang-orang di luar bandung untuk berwisata setiap minggunya, hal inilah yang menjadi penyebab Bandung mengalami kemacetan setiap minggunya.
Rutinitas ini menjadi semakin aneh bila berkelanjutan, "masa udah tau Bandung macet setiap minggu, tetep aja dateng ke Bandung?" papar teman saya. Kalimat tersebut ada benarnya, bila kemacetan terjadi setiap minggu, berarti belum ada solusi yang tepat untuk mengurangi kemacetan Bandung kan?
Entah harus dicarikan solusi atau tidak, namun ada baiknya bila kota kembang yang indah dapat dinikmati dengan santai kan?

Cerita sebelumnya