Senin, 11 Oktober 2010

"Weekend di Bandung? Macet Ah!"

Minggu, 10 Oktober 2010 yang lalu, saya berjalan kaki menyusuri ruas kota Bandung dimulai dari RS. Boromeus sampai dengan Jl. Taman Pramuka, saat itu waktu menunjukan sekitar pukul 12.00 siang. Lalu apa yang membuat saya berjalan kaki seperti itu?
"Toh, ada Angkutan Kota (Angkot)? buat apa susah-susah jalan kaki dari boromeus kesini?" kalimat itulah yang diucapkan teman saya sesampainya di jalan Pramuka.
Saya bercerita kepadanya, bahwa saya pun telah mencoba untuk naik angkot pada saat itu, namun 30 menit setelah saya naik dan duduk, angkot tidak berjalan sama sekali begitupun dengan kendaraan pribadi lainnya, termasuk motor yang juga kehabisan lahan untuk berjalan, Bandung macet total pada saat itu.
Memang biasanya Bandung mengalami kemacetan pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu, namun biasanya kemacetan tidak terjadi separah ini. Kemacetan biasanya terjadi di ruas jln. Ir. H. Juanda (Dago) sampai ke daerah Riau dan sekitarnya, atau di daerah seperti Cihampelas dan Sukajadi, dan mencapai puncaknya pada Sabtu malam hingga Minggu siang.
Setelah 30 menit berlalu di dalam angkot yang tidak kunjung bergerak sama sekali, saya memutuskan untuk berjalan kaki menuju Taman Pramuka sampai menemukan ruas jalan yang cukup Lenggang.
Bawah jembatan Pasupati terlihat semrawut nya kendaraan yang melintas, yang mengakibatkan kendaraan tersebut saling mengunci satu sama lain. Saya bersama banyak orang lainnya yang memutuskan untuk berjalan kaki, menyebrangi jalan dengan mudahnya, karena kendaraan yang berada di sana berhenti total.
Saya terus berjalan bukan karena tidak ada Angkot, tapi semua Angkot yang ada tidak berjalan dan ikut terjebak di tengah kemacetan. Sesampainya saya di sekitar daerah Trunojoyo, kemacetan masih menghiasi jalanan, namun di dekat Taman Pramuka, jalanan terlihat cukup lenggang. Untunglah pada saat saya pulang, kemacetan terjadi tidak separah sebelumnya.
Bandung adalah kota kecil, namun menjadi pilihan untuk orang-orang di luar bandung untuk berwisata setiap minggunya, hal inilah yang menjadi penyebab Bandung mengalami kemacetan setiap minggunya.
Rutinitas ini menjadi semakin aneh bila berkelanjutan, "masa udah tau Bandung macet setiap minggu, tetep aja dateng ke Bandung?" papar teman saya. Kalimat tersebut ada benarnya, bila kemacetan terjadi setiap minggu, berarti belum ada solusi yang tepat untuk mengurangi kemacetan Bandung kan?
Entah harus dicarikan solusi atau tidak, namun ada baiknya bila kota kembang yang indah dapat dinikmati dengan santai kan?

Minggu, 10 Oktober 2010

Pasar Seni ITB 2010

Minggu, 10 Oktober 2010 yang lalu, Institut Teknologi Bandung (ITB) mengadakan sebuah Event Pasar Seni ITB. Acara ini diselenggarakan di kampus ITB, Jln. Ganesha Bandung. Dimulai pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 18.00 WIB. Jalan Ganesha yang berhubungan langsung dengan jalan Ir. H. Juanda (Dago) sudah mulai ramai pada pukul 08.00, keramaian tersebut sudah dimulai dari pukul 07.00 WIB karena adanya Car Free Day setiap hari minggu di Dago. sebagian besar masyarakat menuju kampus ITB pada pukul 08.00 untuk memeriahkan acara yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Design (FSRD) ITB.
Kepadatan pengunjung mencapai puncaknya pada siang hari sekitar pukul 12.00, pengunjung yang berasal dari berbagai aspek umur mulai dari anak kecil hingga orang dewasa datang untuk melihat karya seni yang dipaparkan, mengunjungi stand atau hanya untuk mengambil gambar semata. Pengunjung yang datang berasal tidak hanya dari Bandung, namun Jakarta, Bogor dan sekitarnya juga menyempatkan dirinya untuk mampir ke acara ini. Seni yang ditampilkan antara lain seni Rupa, seni Suara dan Seni Gerak/Tari. Terdapat juga benda seni yang dibuat dari limbah plastik, kaleng minuman, bahkan tabung LPG 3kg. Beberapa panitia juga menampilkan puisi, drama dan bahkan beberapa yang lain mondar-mandir di sekitar kawasan ITB sambil membawa slogan seperti "Mulai diet kantong plastik sekarang!!!" dalam rangka mengurangi limbah plastik di daerah Bandung. Ada juga panitia yang menggunakan kostum semut, dan melakukan aksi semut dengan maksud mengingatkan kita agar tetap menjaga kebersihan dan tidak sembarangan dalam membuang sampah. banyak juga seni tradisional yang disajikan di sini, seperti pencak silat dan tarian lainnya. Bahkan pemain yoyo dan Skateboard ikut memeriahkan acara ini.
Ada beberapa stand yang ramai dikunjungi, salah satunya adalah
Body Painting, di stand ini pengunjung bisa meminta kepada Mahasiswa atau profesional lainnya untuk memperindah bagian tubuh yang diinginkan dengan corak dan warna yang indah. Pengunjung stand ini tidak hanya wanita, beberapa pria juga tertarik oleh Body Painting ini, namun tentu saja wanita masih mendominasi stand ini, Acara itu sendiri berlangsung ramai, tidak tampak satupun stand yang sepi oleh pengunjung, kepadatan pengunjung yang luar biasa menunjukan masih banyak orang yang tertarik dalam kesenian, komentar yang didapat dari pengunjung pun cukup bagus. Sebagian besar pengunjung puas dengan acara yang diselenggarakan oleh FSRD ITB ini. Namun, untuk datang ke acara seperti ini lagi, mungkin anda harus menunggu 4 tahun kedepan, karena konon acara ini diselenggarakan setiap 4 tahun sekali.

Jumat, 30 Oktober 2009

Kekuatan dari sebuah senyuman

"Malam ini dingin”, pikirku saat sedang mengendarai sepeda motor menuju toko kecil milik ku. Toko itu terletak di tengah kota, tempat yang cukup strategis karena berseberangan langsung dengan sebuah hotel yang cukup mewah. Namun, tak berarti pekerjaanku akan mudah di sini, karena tidak semua orang yang melewati toko ini ingin membeli atau memesan sebuah kue. Kebanyakan dari mereka hanya lewat dan menganggap toko ini seperti tidak ada. Malam ini sudah cukup larut, tapi aku masih mengendarai motor tuaku. Melewati jalanan sepi yang di terangi lampu-lampu di sekitarnya, cukup indah untuk menemaniku melintasi jalanan ini. Kupacu motorku dengan cepat karena aku sadar sebagai seorang bapak yang harus menghidupi seorang anak yang ingin memasuki perguruan tinggi, aku harus bekerja lebih keras untuk memenuhi permintaan bagian administrasi tahun depan.

Jalanan semakin sunyi. Saat ku perhatikan sisi kanan-kiri ku terlihat rumah, toko, dan tempat keramaian sudah menutup pintu mereka. Lampu-lampu telah di matikan, menambah gelap jalan yang harus ku tempuh malam ini. Hanya ada aku dan motor tua yang memberikan sinar kepada jalanan sepi sepi ini. Kemudian pada saat sedang asyik menikmati kesunyian malam, kurasakan getaran kecil di saku celanaku, ketika kuperiksa ternyata telepon genggam ku berbunyi. Lantas saja aku berhenti dan menerima panggilan tersebut dan aku berbicara dengan suara yang tidak asing lagi, suara laki-laki yang berat namun tegas yang merupakan suara dari orang yang memintaku pergi malam-malam hanya untuk mengantarkan sebuah kue. Dia adalah orang yang memesan kue buatan ku, yang kebetulan juga merupakan orang hotel yang bekerja tepat di seberang toko milik ku. Beliau memaksa ku untuk mengantar kue malam ini karena ia memiliki acara pagi-pagi sekali besok. Bukan permintaan yang mustahil, karena itulah aku rela mengantar kue ini larut malam.

“Baik Pak… Saya segera ke sana… Sebentar lagi saya sampai di tempat bapak… Terima kasih”

Cukup cerewet, aku berharap tidak menerima telepon darinya lagi, karena itu kupercepat laju motorku melewati jalanan ini. Pukul 10.46, terlambat 15 menit dari waktu yang telah aku janjikan. Segera kusinggahkan motor ku di depan toko setelah sampai dan terburu-buru ingin mengambil kue yang telah di pesan sebelumnya.

Aku berjalan sangat cepat,sehingga tidak memperhatikan sekelilingku apa yang terjadi. Kemudian berhenti di depan pintu dan segera mengambil kunci toko dari saku yang sempit karena badanku yang agak gemuk, cukup tergesa-gesa karena kurasakan telepon genggam ku berbunyi kembali namun tidak ku jawab panggilan tersebut karena aku sudah tahu darimana panggilan itu berasal.

Aku segera masuk dan mengambil kotak yang terletak di sudut ruangan kecil ini, kotak besar yang berisikan kue ini segera ku bawa keluar untuk ku kirim. Di sudut kotak ini tertulis Relife-Hotel yang merupakan tujuan dari kotak ini. Ku Bawa kotak itu melalui pintu, Krincing bunyi pintu yang khas dari toko ini pun memecah keheningan, aku berusaha membawa kotak ini melalui pintu kecil ini.

Seteleh berhasil melewati pintu ini, aku menyaksikan ada seorang pemuda bermuka pucat di samping motor ku, sambil memegang gitarnya dia diam terpaku menatapku. Agak bingung reaksi apa yang harus ku kerjakan, namun aku memilih tersenyum kepada dirinya. Maka aku pun tersenyum kepada pemuda itu, diikuti reaksi yang aneh tampak dari wajahnya. Mungkin pemuda itu bingung mengapa aku tersenyum pada dirinya.

Tak buang waktu aku menatap pemuda itu, dan memilih untuk melewatinya untuk mengantarkan kotak yang daritadi sudah ku peluk karena terlalu besar. Kusebrangi jalanan sepi itu, agak susah untuk berjalan cepat karena kotak yang ku bawa ini berat. Kujalani langkah demi langkah menyeberangi jalan tersebut. Tak lama aku mendengar seseorang berteriak-teriak entah di tujukan kepada siapa, dan aku pun menoleh. Ternyata kepadaku! Dan segera kusaksikan sebuah mobil yang sudah berada tepat di hadapanku. Kaku, tidak bisa bergerak. Namun aku terlempar dari tempat ku berdiri semula dan menjatuhkan kue-kue yang aku bawa.

Segera aku bangkit untuk melihat apa yang terjadi, tampak pemuda tadi sedang tersenyum pula kepadaku, membalas senyuman yang tadi ku berikan kepadanya, senyuman tersebut memberikan kekuatan kepadanya untuk tetap berdiri. Walau aku tahu, ada rasa sakit yang mendalam di tubuhnya.

Ia jatuh tepat di depan mataku, terkapar di jalanan sepi ini. Maka aku segera menelepon rumah sakit untuk mengirimkan ambulans kemari, berharap nyawa sang penyelamat ini dapat diselamatkan. Pada saat itu pula, aku tetap melihat senyuman di wajahnya. sungguh bersyukur aku tersenyum kepadanya tadi. Aku tak membayangkan apa yang terjadi bila ku acuhkan dirinya.

Ambulans pun datang, aku ikut kerumah sakit untuk melihat apa yang terjadi. Ingin membalas senyuman yang ia berikan padaku, namun tidak dalam bentuk ini. Aku ingin membalas senyuman ini dalam bentuk bagaimana aku memperlakukannya setelah ia gugur. Kuhubungi semua yang berkaitan dengan dirinya dan ku bayar semua biaya administrasinya, semua kulakukan untuk membalas senyuman yang jauh lebih mahal dari ini semua. Senyuman yang berharga sebuah nyawa yang saat ini ku bawa dalam raga ku.

Minggu, 04 Oktober 2009

1 menit putus asa dan 1 menit rasa puas.

Di sebuah kota yang modern, gemerlap cahaya lampu menerangi sudut ibukota yang gelap karena malam. Tampak seorang pemuda, memakai jins lusuh dan kaus yang kotor, serta menggendong sebuah gitar yang tampak sebagai seorang partner untuk mencari sesuap nasi di keramaian ibukota, bersandar di samping pintu sebuah hotel yang bertuliskan Relife-Hotel sambil memainkan gitarnya yang usang namun merdu di telinga pendengarnya. Berharap orang-orang yang melewatinya akan menjatuhkan sedikit uangnya ke dalam topi yang daritadi sudah di buka-nya lebar-lebar. Topi itu masih kosong, hingga malam ini tak tampak sedikitpun uang di dalamnya. Tak lama, ia diam terpaku menatap topi tersebut masih kosong, berhenti mengalunkan lagu-lagu merdu dari pita suaranya dan memilih untuk diam menatap topi kosong tersebut.

Seribu orang yang melewati dirinya hari ini tidak memudahkan dirinya untuk mendapatkan seribu rupiah dari mereka. Terbukti dari topi kosong tersebut yang masih saja dilihatnya putus asa. Sempat terbayang di benaknya "Kenapa hidup gw kayak gini?", detik berikutnya muncul niat jahat dalam diri sang pemusik jalanan tersebut. Di dukung oleh perut yang lapar ingin di isi, serta pandangannya yang teralih kepada seorang yang berjalan meninggalkan motor dan kuncinya di seberang jalan, tampak bahwa orang tersebut lupa mencabut kunci dari motornya karena terburu-buru masuk ke dalam sebuah toko kue. Langsung saja ia membuat rencana untuk mencuri motor tersebut, tanpa memikirkan resiko dan hal buruk yang mungkin saja menimpannya. Menit berikutnya, ia pun berdiri tegap sambil memakaikan topi yang kosong tadi di kepalanya dan menatap fokus pada motor tersebut. Terdiam, Membisu, dengan tatapan seperti seorang Cheetah yang akan memburu mangsanya.

Tak perlu berpikir seribu kali untuk memulai rencana dadakan yang ia buat 1 menit yang lalu, ia pun mendekati motor tersebut sambil membayangkan sebuah makanan yang mungkin ia dapatkan ketika menjual motor curian ini. Tak perlu membuang waktu untuk menyadarkan si pembawa motor bahwa kuncinya tertinggal. Tak perlu menunggu sampai pengemudi keluar dari toko kue. Langkah demi langkah ia jalani, menyebrangi jalan raya yang sepi karena malam yang larut, gelap karena cahaya yang perlahan menghilang tak sampai karena jalan tersebut terlalu lebar. Namun hal tersebut tidak menggoyahkan pikirannya, mata dan pikirannya tetap fokus pada motor yang tinggal beberapa Meter di hadapannya.

Menit berikutnya, ia hanya perlu meraih sedikit lagi motor tersebut. Sudah tepat berada di hadapannya, dan ia hanya perlu duduk menyalakan motor dan membawanya pergi. Pada menit ini pula, Krincing seketika terdengar memecah keheningan malam dan keheningan hatinya, menandakan bahwa pintu toko kue tersebut terbuka. Maka pemuda itu pun berdiri terpaku hanya 50 Senti dari motor yang ingin ia curi. Tatapannya teralihkan pada pintu yang terbuka, menunggu dengan cemas seseorang yang mungkin akan keluar dari toko tersebut dan memergokinya ingin mencuri.

Memang ada seseorang yang keluar dari toko tersebut, dan dia adalah bapak yang mengendarai sepeda motor yang ingin ia curi. Namun ia tidak bertangan kosong keluar dari toko tersebut, bahkan terlalu banyak membawa bawaan. Bapak ini cukup gemuk, tak tampak dari kejauhan bahwa ia gemuk, dan pintu toko ini kecil, lebih kecil dari tampaknya ketika sang pemuda melihatnya dari kejauhan. Namun itu tak penting lagi, jelas bapak tersebut melihat dirinya berdiri terpaku dengan gitar di tangan kiri menandakan bahwa ia seorang pengamen. Tapi apa yang terjadi? Beliau justru tersenyum kepada sang pemuda sambil terus berusaha membawa kotak-kotak besar yang ia peluk melewati pintu yang kecil.

Sampai bapak tersebut berhasil melewati pintu toko, sang pemuda hanya diam terpaku. memandangi beliau. Walaupun ia membalas senyuman ketika beliau tersenyum tadi, tapi hal tersebut tidak membuatnya beranjak dari tempat ia berdiri. Ia tetap memandang bapak itu dan mencermatinya. Sampai tiba tatapannya pada tulisan kecil di sudut kotak yang di bawa oleh bapak-bapak tersebut. Tulisan tersebut berkata "untuk Relife-Hotel", maka langsung terlintas di benaknya bahwa bapak ini ingin membawa kotak tersebut ke dalam hotel yang berdiri persis di seberang toko kue.

Tanpa di sadari bapak gemuk itu sudah melewatinya dan mulai menyeberang tanpa perasaan curiga sedikitpun, pandangan si pemuda tetap tertuju pada bapak yang sedang berjalan menyeberangi jalan raya yang sepi. Bapak gemuk itu berjalan lambat sekali karena khawatir kotak yang dia bawa akan jatuh, namun di kejauhan tampak cahaya lampu mobil yang berjalan amat cepat di jalanan yang sepi ini, tidak menyadari bahwa ada seorang yang bersusah payah menyeberang jalan demi mengantarkan sebuah kue.

Sepuluh meter mobil tersebut belum mengurangi kecepatannya, masing-masing pihak tidak mengetahui keberadaan satu sama lain. Hanya pemuda yang tepat berdiri di belakang bapak gemuk yang menyadari, bila tidak di ingatkan maka akan terjadi kecelakaan yang tragis di jalan antara hotel dan toko kue ini. Muncul Dua buah pilihan di benak sang pemuda, ia membiarkan bapak tersebut celaka dan ia akan mendapatkan sebuah motor secara cuma-cuma atau menyelamatkan bapak tersebut dengan taruhan yang belum jelas. Ia hanya mempunyai waktu Dua detik untuk memilih. Satu detik untuk niat buruk dan satu detik untuk niat baik. Dua detik itu berjalan sangat lambat, pilihan yang sulit untuk seseorang yang berputus asa.

Akhirnya pada detik ketiga, ia memilih untuk menyelamatkan bapak penyeberang jalan. Ia berlari meninggalkan gitarnya tanpa pikir panjang sambil berteriak-teriak memecah keheningan malam, berharap teriakannya akan membatalkan hal buruk yang mungkin akan terjadi di jalanan tempat ia mencari sesuap nasi ini. Teriakannya tidak sia-sia, bapak gemuk itu menyadari bahwa ia dalam bahaya. Dan segera, dengan reflek yang jarang terlihat untuk orang yang gemuk, bapak tersebut melempar kue yang di peluknya dan meloncat menghindari mobil yang tak lama kemudian mengerem setelah sadar bahwa ia telah membahayakan orang lain. Dan sang pemain gitar pun berhenti berlari, satu menit ini ia tersenyum puas karena merasa telah menyelamatkan satu orang dari sebuah kecelakaan. Walaupun belum bisa menyelamatkan diri sendiri dari kecelakaan yang seharusnya menimpa orang lain. Bapak yang masih shock itu akhirnya sadar, bahwa bukan dirinya lah yang melompat, namun sang pemuda yang mendorongnya sehingga ia selamat.

Pemuda itu tergeletak di tengah jalan, di hampiri seorang bapak yang menggenggam telepon selular berteriak-teriak menelepon rumah sakit atau semacamnya. Menit berikutnya, semua berakhir.

Sang pemuda merasa tenang dan sepi, tertidur selamanya dengan senyuman yang menghiasi wajah yang selama ini berhiaskan rasa putus asa. 1 menit yang lalu ia berputus asa, satu menit inilah ia merasa puas.

Cerita sebelumnya